Senin, 09 Desember 2019

Bunga Hati Yang Bersemi



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai sahabat,

Diriwayatkan dari Imam Al-Bukhari, no. 709 bahwa Rasulullah Sallaulahu Alaihi Wasallam bersabda
          “Sesungguhnya aku memasuki shalat dan ingin memanjangkannya, namun aku mendengar tangisan seorang bayi, maka aku memendekkannya karena aku mengetahui perasaan ibunya yang sangat pilu karena tangisannya”

          Dari hadist diatas mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah sangat menjunjung tinggi rasa kasih sayang sebagai akhlak yang sangat mulia. Sumber kasih sayang adalah kejernihan jiwa dan kesucian rohani, maka semakin bersih jiwa seorang hamba maka semakin tinggi rasa kasih sayangnya terhadap manusia maupun makhluk hidup lainnya.

          Dengan kasih sayang seorang muslim tidak akan membicarakan hal buruk saudaranya, dengan kasih sayang seorang muslim akan senantiasa dapat merasakan kesusahan yang dihadapi saudaranya.

          “Perumpamaan orang-orang beriman di dalam cinta, kasih sayang dan perasaan simpati adalah laksana satu tubuh yang apabila salah satu anggota mengaduh, maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut serta mengaduh dengan tidak bisa tidur dan demam. (H.R. Muslim, no. 2586)”

          Satu yang merasa sakit maka semuanya akan merasakan, begitulah sifat sejati seorang muslim. Bagaimana dengan diri kita yang mengaku seorang muslim? Seberapa besar rasa kasih sayang yang ada dalam diri ini terhadap saudara kita, apakah kita memiliki akhlak berkasih sayang seperti yang diajarkan baginda Rasulullah Sallaulahu Alaihi Wasallam.

          Mari menengok saudara-saudara kita dijalanan, mari melihat tetangga-tetangga kita. mungkin saja mereka sangat membutuhkan uluran tangan dari saudaranya, mungkin saja mereka kesusahan tapi enggan untuk meminta bantuan.

          Mari muhasabah diri kita masing-masing sahabat, mari menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap keluarga dan saudara kita, karena setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.

          Seungguhnya kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan datang dari diri saya pribadi.

MPM Al-Iqra
Keep Ukhuwah

Rabu, 04 Desember 2019

Jangan Siapkan Musuh di Akhirat



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

                Hai sahabat, kali ini kami akan mengangkat sebuah kisah teladan dari seorang yang luar biasa yaitu kisah dari Imam Bukhari yang begitu takut menyiapkan musuh diakhirat kelak.

                Imam Bukhari adalah seorang yang sangat gemar berburu, suatu hari ia hendak berburu bersama teman-temannya dan ia hendak latihan terlebih dahulu dihalaman rumahnya sambil menunggu teman-temannya. Pada saat latihan, tanpa sengaja Imam Bukhari dengan anak panahnya sedikit mengikis pagar tetangganya. Lalu imam Bukhari segera memanggil pegawainya dan mengatakan “bilang kepada teman-teman saya, bahwa hari ini saya tidak akan ikut berburu dan juga sampaikan kepada tetangga kita bahwa saya minta maaf karena tidak sengaja mengikis pagarnya dengan anak panah. Katakan juga kalau saya akan mengganti rugi.”

                Kemudian pegawai imam Bukhari pun menemui tetangga tersebut dan mengatakan apa yang telah dilakukan majikannya dan menunjukkan pagar yang tercuil dedikit akibat anak panah dan ia mengatakan majikannya akan mengganti rugi hal tersebut. Lalu tetangga Imam Bukhari pun berkata “jangankan pagar saya, rumah sayapun saya rela memberikannya untuk imam Bukhari. Katakan padanya bahwa saya memaafkannya”

                Kemudia pegawai imam bukhari itupun kembali dan mengatakan kepada tuannya apa yang barusan ia dengarkan. Lalu imam Bukhari pun sujud syukur kepada allah dan bersedekah kepada fakir miskin, Hal ini ia lakukan karena ia tahu akan konsekuensi yang akan ia tuai walaupun itu sebuah hal kecil dan tidak ingin menyiapkan musuh dikahirat kelak hanya karena mengikis pagar rumah tetangganya.

                Mari kita introfeksi diri sahabat dari kisah iamam Bukhari. Berapa banyak musuh yang telah kita siapkan diakhirat dan kita belum meminta maaf kepada orang yang kita Zolimi. Berapa hutang yang enggan kita lunasi kepada saudara kita. berapa banyak cacian yang kita lontarkan dibelakang saudara kita. berapa banyak sendal yang kita injak pada saat beranjak dari masjid. Berapa banyak ciprakan air yang terkena saudara kita saat berwudhu ketika hendak sholat. Mari memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang kita perbuat baik itu disengaja maupun tanpa sengaja dan mari meminta maaf kepada saudara-saudara kita selagi kita masih diberikan waktu oleh Allah , selagi ruh ini masih bersemayam dalam jasat agar nantinya kita tidak menyesal dikemudian hari.

                Sekian tulisan hari ini. mohon maaf atas segala kekurangan, kebenaran datangnya dari Allah dan kelalaian dan kesalahan dari diri kami pribadi.

MPM Al-Iqra
Keep Ukhuwah

Senin, 02 Desember 2019

Malumu Lebih Berharga Dari Anakmu



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai sahabat......... bagaimana kabar hari ini? semoga selalu dalam limpahan rahmat Allah Subhanahu Wataala

Baginda Rasulullah Muhammad Sallaulahu Alaihi Wasallam bersabda
                “Iman itu bercabang tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih, yang paling utama adalah kalimat la ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan malu termasuk cabang dari iman” (H.R. Bukhari dan Muslim)

                Islam mengajarkan untuk menanamkan rasa malu kedalam diri setiap hamba, dan rasa malu berdasarkan redaksi hadist diatas adalah termasuk bagian dari keimanan seorang hamba. Hal ini menandakan bahwa akhlak malu bukanlah hal yang bisa dianggap remeh melainkan sesuatu yang luar biasa dengan hikmah yang besar dari Allah Subhanahu Wataala.

                Tidak perlu jauh-jauh sahabat untuk melihat kerusakan pada akhlak ini. mungkin sahabat yang membaca tulisan ini adalah sebagian besar adalah seorang mahasiswa. Coba pikirkan ketika kalian menuju kekampus kemarin atau ketempat lainnya, berapa orang yang kalian temukan dijalanan berpakaian tetapi tidak mengikuti aturan yang telah diajarkan Rasulullah Sallaulahu Alaihi Wasallam kepada ummatnya dan mereka mengaku seorang muslim. Mereka tidak merasa malu kepada Allah dan rasulnya yang mengajarkan tentang rasa malu dalam setiap aspek kehidupan.

                Diriwayatkan oleh Abu Dawud, No. 2488
                “Semoga Allah merahmati seorang ibu yang kehilangan anaknya, kemudian dia masuk ke satu kaum untuk menanyakan anaknya yang hilang. Seorang laki-laki berkata-kata, ‘Dia bertanya tentang anaknya, sedangkan dia memakai niqab (cadar).’ Ibu tersebut mendengarnya kemudian menjawab, ‘sungguh aku kehilangan anakku itu adalah lebih baik daripada aku kehilangan rasa maluku, hai lelaki’

                Betapa pentingnya rasa malu ini sahabat dan akibat yang akan dituai jika kita mengabaikan rasa malu pada diri kita sendiri. Semoga kita semua dapat menanamkan akhlak malu ini kedalam diri kita masing masing dan dapat mengajarkannya dengan orang lain.

                Sekian, mohon maaf  atas segala kekurangan, sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan tentunya datang dari diri saya pribadi.

Syukron.
Mpm Al-Iqra
Keep Ukhuwah


Jumat, 06 September 2019

Orang-orang yang bangkrut



image by exabytes.co.id
            Sahabat pernah ditanya oleh Rasulullah: “Tahukah kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?” Mereka (para sahabat) berkata, “Orang bangkrut yang ada di antara kami adalah orang yang tidak ada dirhamnya dan tidak memiliki barang”. Rasulullah SAW berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Dia datang dan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah ia zalimi) kemudian dipikulkan kepadanya lalu iapun dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

            Sahabat, Rasulullah telah menerangkan kepada kita ummatnya tentang pedang bermata dua yaitu lisan yang sehari-hari kita gunakan. Coba kita merenung sejanak dihari ini sahabat, berapa kalimat yang telah kita ucapkan hingga saat ini sedari bangun dipagi hari, apakah kita terhindar dari ucapan-ucapan mencela orang lain ataukah bahkan kita sekarang sedang kumpul membicarakan keburukan orang lain sembari membaca penggalan kalimat yang tertulis pada halaman ini. Semoga kita terhindar dari sifat yang dapat menghapus semua amal baik kita dan terus berusaha memperbaiki diri dari sifat ini.

            Tapi saya suka khilaf dan keceplosan membicarakan keburukan orang lain
            Tapi saya selalu terbawa suasana saat berbincang bincang dengan teman

            Sahabat, nafsu itu selalu membawa kita kepada hal-hal yang buruk dan kesenangan sesaat dan ingat kita terus digiring oleh setan dari jin dan manusia sedikit demi sedikit hingga kita berkubang dengan lumpur kemaksiatan bahkan hingga keluar dari aqidah mentauhidkan Allah Subhanahu Wata’ala.

            Terusah ber-istighfar sahabat, teruslah meminta ampun kepada Allah dan berusaha bertaubat dari maksiat-maksiat yang dapat merusak amalan baik kita. Teruslah memuhasabah diri kita sahabat setiap kali kita hampir terlelap dalam tidur. Berapa banyak dosa kita hari ini? berapa banyak maksiat yang kulakukan? Berapa banyak kusakiti orang lain dengan lisan yang dititipkan Allah kepadaku? Niatkanlah untuk hari esok bahwa kita bisa lebih baik dari hari ini murni hanya karena Allah Subhanahu Wata’ala, bukan karena makhluk, bukan karena ingin dilihat manusia atau mengharapkan sesuatu dari manusia, insya Allah kita selalu berada dijalan rahmatnya dan terus diberikan hidayah dari segala hal dikehidupan dunia, amin.

Mpm al-iqra
#keepukhuwah

Minggu, 18 Agustus 2019

Kemana langkahmu


images by bengkuluekspress.com

                Sahabat, genap sudah negara kita ini merdeka 74 tahun lamanya, begitu banyak peristiwa yang terjadi selama 74 tahun lamanya sejak diproklamirkannya kemerdekaan indonesia atas penjajahan yang sangat panjang.

                Sahabat, sudah 74 tahun kita merdeka. Pernahkah terlintas dibenak kita apa yang telah kita lakukan untuk memajukan bangsa ini, memberikan yang terbaik untuk menghargai para pahlawan yang telah berjuang sampai titik darah penghabisan. Ketika seruan takbir menggelegar sebagai tanda genderang perang yang membahana. Pantang menyerah karena keyakinan iman dan harapan syahid di jalan Allah Subhanahu Wata’ala menjadi pembakar semangat mereka, mereka yang mungkin saat ini tidak kita ketahui namanya, mereka yang saat ini mungkin tidak tertulis dalam buku sejarah, mereka yang berjuang mengharapkan Allah memberikan perubahan pada bangsa ini yang telah menderita ditangan kejam sang penjajah selama ratusan tahun lamanya.

                “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

                Usaha tidak akan menghianati hasil, ya.... itu kalimat trend yang sering kita lontarkan disaat kita berjuang untuk meraih sebuah keberhasilan.

                Mari kembali melihat indonesia di era 74 tahun ini, begitu banyak gemelut, begitu banyak permasalahan yang membumbung tinggi menambah asap tebal kelam kenegaraan. Koruptor berkeliaran dimana-mana karena para cendikiawan negara tidak dilandasi iman yang kuat, tidak dilandasi dengan kejujuran, tidak dilandasi dengan rasa tanggung jawab akan beban kemerdekaan yang harus memakan ratusan ribu korban jiwa. Mereka tidak takut dengan Allah subhanahu wata’ala tuhan yang maha esa, bukankah sila pertama landasan negara kita adalah ketuhanan yang maha esa?

                Merdeka belum berarti kita tidak perlu lagi berjuang, merdeka bukan berarti kita bisa berleha-leha dalam hidup, merdeka bukan berarti kita hanya duduk termanggu diatas kursi dengan makanan enak yang tersuguh diatas meja ataupun asik didepan layar komputar atau hp tanpa manfaat. Mari bangun sahabat, mari melangkah bersama menghasilkan genereasi penerus bangsa yang berakhlak mulia, yang sadar akan kehidupan dunia hanyalah titipan semata yang harus dipertanggungjawabkan dihari kemudian kelak.

                Jangan hanya asik mengkritik tanpa solusi, jangan hanya asik mencaci tanpa aksi. Perubahan tidak akan datang tanpa kita mau berusaha sahabat.

Syukron
Mpm al-iqra keep ukhuwah


Rabu, 14 Agustus 2019

Lidahku tak dapat lagi berdalih



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
                Sahabat mari merenung sejenak akan apa yang telah kita lakukan dimasa yang lampau dan yang sekarang ini kita perbuat. Lihatlah jemari kita masing-masing, apakah ia digunakan dengan hal yang baik ataukah yang buruk. Ingatlah kembali lontaran perkataan yang kita layangkan untuk orang lain, apakah itu adalah perkataan yang layak untuk kita ucapkan sebagai manusia yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat kelak.

                Hari ini, jemari kita dengan mudahnya mengambil hak milik orang lain, adakah hati ini bergetar ketika jemari ini menggenggam yang bukan hak milik kita. tidakkah kita menggunakan akal pikiran kita bahwa barang yang dengan sengaja kita ambil itu ada usaha yang begitu besar untuk memperolehnya, tidakkah kita memikirkan tetesan keringat mereka untuk membeli suatu barang dan diri ini dengan mudahnya mengambil tampa rasa iba sedikitpun. Diri ini telah menjadi orang yang sangat kejam sahabat.....

                Wahai sahabat, ingatlah setiap gerak gerik yang kita lakukan selalu ada yang mengawasi, selalu ada yang mencatat tanpa terlewat sedikitpun. Catatan yang nantinya akan ditanyakan dihari perhitungan nati. Disaat dalih tidak lagi berguna, permainan lidah yang begitu meyakinkan tidak ada manfaattnya, disaat mulut ini menjadi bisu tanpa kata dan mulailah anggota-anggota tubuh kita bersaksi dihadapan Allah subhanahu wata’ala. Jari jemari kita yang dulunya diam kini dapat berbicara bersaksi akan apa yang telah kita perbuat didunia.

                Tidak merasa takutkah diri ini sahabat? Akan begitu dahsyatnya hari perhitungan kelak. Semua terpampang jelas didepan mata kita dan kita tidak akan mampu mengelak sedikitpun.

                Mari memperbaiki diri dengan perlahan, mualailah dengan tidak merugikan orang lain dan menyebar manfaat untuk orang banyak dan semua itu dapat tercapai dengan kita belajar ilmu agama, karena ilmu adalah awal untuk sebuah amal.

Syukron.
Mpm al-iqra keep ukhuwah

Senin, 05 Agustus 2019

Yang tidak termaafkan


            Pada saat bintang jatuh berguguran selayak hujan yang mebinasakan, gunung-gunung yang semula kokoh menghujam ke perut bumi kini bertebrangan luluh lantak dengan satu tiupan kematian. Saatnya kembali menghadap sang ilahi yang menitipkan dunia pada hamba-hambanya yang kebanyakan tidak pandai bersyukur.

            Bangkit dari tidur panjang kehidupan yang melalaikan, tersadar dari mimpi yang fana menuju alam yang kekal dengan dua pilihan yang vertikal, kenikmatan ataukah siksaan. Saatnya menapaki jalan perhitungan sebelum mengakhiri sebuah perjalanan yang amat teramat panjang.

            Akankah ia memberkahiku dengan surganya ataukah akan disiksa di nerakanya. Akankah ada pengampunan untuk pendosa sepertiku. Tidak ada yang mengetahui kecuali dia yang maha besar Allah subhanahu wa ta’ala.

            Namun, saat perhitungan nanti ada orang yang tidak akan diampuni, siapa mereka mereka adalah orang orang yang menjual akidahnya demi kehidupan dunia. Yang selalu menyekutukan Allah dengan melakukan kesyirikan. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki iman sama sekali dan mati dalam keadaan belum bertaubat kepadanya. Tujuan yang diberikan kepada mereka hanya 1 yaitu siksa atas kekafiran mereka.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

            Selain itu ada juga orang-orang yang memiliki dosa yang sangat banyak sampai ia sendiri tidak mampu menghitungnya. Namun dibalik dosa-dosa itu ia memiliki akidah yang benar, akidah yang lurus yaitu mengesakan Allah, tiada tuhan selain dia, dia yang maha kuasa atas segala sesuatu. karena tauhidnya itulah Allah mengampuni semua dosa dosanya dan diberkahi dengan surganya.

            Sahabat mari perbaiki tauhid kita, seperti apa yang dinginkan Allah dan Rasulnya didalam Al-qur’an dan sunnah semoga kita bisa mendapatkan ampunan dari dosa-dosa yang kita perbuat selama didunia.

Syukron
Mari saling menasehati dalam kebaikan bukan saling mendukung dalam keburukan
#mpmaliqrakeepukhuwah

Rabu, 03 Juli 2019

Studi islam intensif 2019



            Hai adik-adik mahasiswa baru angkatan 2019, selamat bergabung menjadi keluaga universitas tadulako yang insya Allah menjadi universitas yang menghasilkan mahasiswa yang berakhlak mulia hingga tanah dunia tidak lagi dipijak.
            Belajar agama???..... ah... malas, membosankan, tidak gaul, kurang berkesan. mungkin itu kata-kata yang muncul dibenak adik-adik sekalian. Tapi kalian tahu tidak, belajar agama itu hukumnya wajib loh.... ayo buka lagi Al-Qur’annya
            Belajar agama itu memang membosankan bagi orang yang belum bebaur didalamnya, karena belajar agama itu harus didasarkan pada hati dan keinginan, ikhlas hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah subhanahu wata’ala. Coba adik-adik berniat untuk belajar agama bukan karena paksaan atau hanya karena ingin mendapatkan nilai, insya Allah adik-adik akan mendapatkan kenikmatan dalam menuntut ilmu agama.
            Untuk mendapatkan kenikmatan menuntut agama itu tidak mudah loh adik-adik. Semua itu harus dilakukan sedikit demi sedikit, ibaratnya hati kita seperti sebuah pedang, kemaksiatan membuat bilahnya penuh karatan dan untuk digunakan menebang pohon pasti akan sangat sulit.
            Nah.... belajar agama seperti mengasahnya dengan perlahan dan harus dimulai dari hal-hal yang menyenangkan agar tidak membosankan.
            Yuk, berabung di studi islam intensif mpm al-iqra fakultas ekonomi universitas tadulako. Mari belajar memgasah hati kita yang penuh dengan karat menahun. Basahi ia dengan ruh agama yang menyegarkan. Belajar perlahan dimulai dengan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu agama sebagai petunjuk untuk kehidupan kekal di akhirat nanti, ketika nafas tidak lagi berhembus, ketika darah berhenti mengalir, ketika kita akan dimasukkan kedalam liang lahat sebagai gerbang menuju alam akhirat.

Sekat-sekat tirai penghalang



            Duduk sendiri dipojok ruangan disebuah cafe yang setiap detiknya bertebaran dosa-dosa. Duduk menghabiskan waktu dengan lantunan musik yang semakin menjauhkan dari sucinya lantunan Al-Qur’an. Kepuasan nafsu menjadi raja yang tidak terbantahkan, semakin jauhnya diri ini dari mengingat akhir dari kehidupan. Kesenangan fana menjadi sesuatu yang diagungkan dan menjadi tren kehidupan kaula remaja. Fikiran ini telah lupa atau bahkan tidak pernah tahu dan sepertinya tidak mau tahu dengan  hakikat kehidupan dunia yang fana.
            Sahabat seiman seperjuangan, bila diri ini mulai berpaling maka bertaubatlah, bila diri ini mulai berjalan diatas duri yang dihiasi kepuasan fana maka sadarlah. Segera mengiingat kebesarannya dan perintahnya serta larangannya. Itu akan memberikan cahaya dikala gelap itu datang. Cahaya itu akan membuka tabir kepalsuan yang dihiasi kesenangan sesaat. Iblis selalu memperindah jalannya sesungguhnya mereka adalah musuh nyata manusia.
            Jangan biarkan dosa-dosa itu menambah sekat-sekat penghalang yang semakin menutupi kebenaran akan indahnya kampung halaman. Akan indahnya getaran hati yang dipenuhi keimanan, akan indahnya akhir yang baik akan kematian khusnul khatimah atau syahid dijalannya. Jangan biarkan ia menyetir kehidupan yang diakhiri penyesalan, saatnya putar haluan kejalan yang di ridhoinya, jalan yang akan menghantarkan pada keindahan yang belum pernah didapatkan bahkan terbayangkan sedikitpun.
            Dunia itu terasa indah karena ia dekat, dunia terasa istimewa karena kita dapat merasakannya disaat kita ingin. Tapi ingat akhirat itu seperti kotak hadiah istimewa yang didapatkan dari apa yang kita perbuat didunia. Bisa menjadi hadiah terbesar yang belum pernah kita dapatkan namun juga bisa menjadi bumerang yang membinasakan.
            Warnai hidup ini dengan keikhlasan dalam peribadatan terbaik kepadanya. Perbaiki hubungan kita dengan sang pencipta dan kepada sesama makhluk ciptaannya. Beramallah walaupun itu hanya sebesar zarrah. Karena kita tidak pernah tahu mana amalan yang akan menghantarkan kita menuju surganya. Dan hindari perkara dosa sekecil apapun itu karena itu bisa menghantarkan kepada murka Allah Subhanahu Wata’ala.

Minggu, 05 Mei 2019

It’s Come Back



Rasa itu kembali lagi, rasa yang setahun lalu mulai terbenam semakin dalam dengan rutinitas setahun berjalan penuh hiruk pikuk kegiatan yang memudarkan iman seorang hamba. Dosa-dosa telah banyak melekat mengotori sanubari yang semakin jauh dari jalan yang diajarkan sang pembawa risalah. Sang pembawa risalah yang membawa udara sejuk diatas tanah gurun gersang dimana masyarakat berpaham dengan begitu bodoh dan kolotnya menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat sedikitpun untuknya. Itulah masa jahiliyah dimana akalpun menentang hal tersebut namun mereka masih kolot melakukannya dengan alasan peninggalan nenek moyang mereka.

            Hati ini rindu dengan kedatangannya, berharap dapat menghapus kotornya noda dosa yang kian hari kian bertambah. Bulan pengampunan yang dinanti-nanti para insan yang masih memiliki tauhid kepada sang pembuat segala. Dia yang mengawali segalanya dan tidak pernah berakhir untuk selamanya. Dialah Allah azza wa jalla. Tiada sesembahan yang patut disembah selain dia.

            Ramadhan, bulan mulia yang diberikan untuk hambanya. Sebagai penghapus dosa dan memperbanyak pahala mengharap keridhoan atas surganya. Yang sesungguhnya nikmat ternikmat yang kita rasakan di dunia hanyalah kenikmatan yang sangat kecil bila dibandingkan dengan kenikmatan surga yang disipakan untuk orang-orang beriman dan tidak menzalimi diri sendiri.

            Bulan ramadhan, datang seperti semilir angin sejuk penghilang panas dahaga. Menghapus dosa bagi orang yang bersungguh-sungguh menjalankan amalan dan meminta pengampunan atas segala dosa yang telah dilakukannya. Hingga akhirnya ia keluar dari bulan itu dengan rasa kehilangan mencemaskan akankah ia akan bertemu kembali dengan bulan yang mulia ini. itulah mereka yang keluar dari bulan ini dengan sanubari seputih kertas karena noda dosa telah dihapuskan sebersih kapas.

            Dengan banyaknya hikmah ramadhan yang diberikan oleh Allah, tetapi masih juga ada segelintir insan yang tidak paham dan tidak mengamalkan. Mereka merasa bulan itu sama dengan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka seperi terbebani karena harus berpuasa sebulan penuh. Mereka berharap bulan ini cepat berlalu. Inilah orang-orang yang lebih mementingkan dunianya hingga nantinya kematian itu tiba mengetuk pintu rumah mereka saat itu mereka baru sadar begitu istimewanya bulan ramadhan yang mereka sia-siakan, begitu banyaknya amalan yang mereka terlantarkan dibiarkan berlalu tanpa hinggap sedikitpun, bersih dari amal namun kotor dengan dosa.

            Saat api azab menerjang mereka, saat siksa barza dan akhirat mereka dapati, saat itulah penyesalan itu datang dengan dahsyatnya. Penyesalan tak berhujung, penyesalan yang tiada guna karena setiap pintu amalan telah ditutup dan masa hidup didunia telah berakhir. Saatnya kembali untuk menerima balasan atas segala perbuatan didunia.

            Sahabat, mari bangun kesadaran, mari perbanyak amal dibulan terbaik ini. jangan sampai terlewat sedikitpun amalan yang bisa kita raih. Ibarat seorang yang penuh dahaga mendapatkan air sejuk dengan kesegaran. Seperti itulah kita seharusnya menghadapi bulan yang  penuh berkah dan rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan......

Mpm Al-Iqra.
Keep Ukhuwah


Rabu, 01 Mei 2019

Saat kamera bergandengan dengan bakia dalam sehari


Sahabat, mpm Al-Iqra Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako kota Palu baru saja menyelesaikan dua kegiatan Sahara (sejuta hikmah ramadhan) yaitu Kamera (kajian menjelang ramadhan) dan Bakia (bagi jadwal imzakiyah) yang alhamdulillah telah selasai dilaksanakan pada hari rabu 1 mei 2019 dengan usaha yang maksimal dari para panitia Sahara.

Dalam kegiatan Kamera tahun ini menghadirkan pemateri yaitu ustadz Ali Firdaus yang mengangkat topik fiqih bulan ramadhan sebagai persiapan atau bekal untuk menyambut bulan yang penuh berkah yang datang hanya sebulan dalam setahun yang penuh dengan pintu petaubatan dan pintu mencari ladang pahala yang berlimpah dan dilaksanakan di masjid raya lolu.

Kegitan Kamera tahun ini berjalan dengan lancar dengan kendala yang tidak terlalu berarti dimulai dari habis sholat dzuhur hingga berakhir menjelang sholat ashar dengan diakhiri mengulas beberapa pertanyaan dari peserta yan mengikuti Kamera.

 Setelah Kamera berakhir panitia tidak memiliki waktu untuk sekedar beristirahat karena kegiatan kedua telah menanti. Selepas sholat ashar panitia berkumpul untuk melakukan evaluasi mengenai kegitan yang telah selesai kemudian dilanjutkan dengan pembahasan untuk kegiatan Bakia.

Kegiatan Bakia diawali dengan pembagian penanggung jawab untuk setiap tempat yang nantinya akan dibagikan selebaran jadwal imzakiyah yang telah didesain sedemikian rupa agar terlihat menarik dilengkapi dengan lembaran dakwah ramadhan yang mengandung isi yang sangat berguna dalam aktifitas dalam bulan suci ramadhan.

Kegiatan Bakia mendapatkan respon yang sangat baik dari masyarakat yang terlihat antusias yang hal ini menandakan masih kurangnya informasi mengenai jadwal imsakiyah pada masyarakat kota palu.

Titik-titk pembagian jadwal imsakiyah tahun ini yaitu pasar masmba, pasar impres, lampu lalu litas veteran, lampu lalu lintas toua, dan lpanga vatulemo yang alhamdulillah berjalan dengan lancar dan rapi sesuai dengan apa yang diharapkan oleh panitia.

Sekian tulisan kegiatan mpm Al-Iqra hari ini tunggu kegiatan-kegiatan kami selanjutnya karena kegiatan sahara mesih tersisa tiga sesi lagi.

Syukron.....
#keppukhuwah
           


Jumat, 19 April 2019

TRAINING OF MENTOR (TOM) 2019




Training of mentor adalah program kerja divisi kaderisasi MPM AL-IQRA FE UNTAD yang bertujuan untuk menghasilkan pementor-pementor yang handal dalam menyampaikan amanah dakwah kepada mereka yang belum terjamah cahaya iman maupun untuk menambah pengetahuan masyarakat ekonomi akan pentingnya ilmu agama dalam menata kehidupan.


Tahun ini Training Of Mentor kembali tiba tepatnya hari ini sabtu 20 april 2019 yang akan berlangsung sampai esok hari dengan mengusung tema inspiratif yaitu “Membentuk Pementor yang Berintelektual dan Berakhlak Mulia”. Training of mentor tahun ini berlangsung dua hari dan telah disiapkan beberapa agenda terbaik yang bisa dipersembahkan oleh panitia.


Memasuki ruangan BTE 1 FE UNTAD akan tersuguh panitia yang menanti peserta dimeja registrasi sebagai bentuk pendataan awal agar peserta dapat terhitung dengan akurat. Mengapa harus akurat? Karena para peserta adalah cikal bakal terbentuknya seorang pementor yang akan berdakwak dibumi tadulako FE UNTAD. Sebelum menghitung orang-orang sebagai terget dakwah, yang utama kita harus lebih dulu menghitum kekuatan yang kita miliki agar semua dapat terprogram secara akurat.


Didepan panggung Training Of Mentor telah berdiri seseorang yang Insya Allah luar biasa sebagai pemandu kegiatan hari ini yaitu akhi Rian yang memiliki banyak inovasi agar semua peserta tertuju hanya pada satu arah.


Pandangan mengganjal didalam ruangan ini cukup tampak dari plafon-plafon yang berlubang-lubang tidak beraturan dengan dinding yang terlihat retak efek dari gempa beberapa bulan lalu. Namun semua itu tidak memberikan rasa ketakutan sedikitpun, panitia dan peserta terlihat berinteraksi positif dengan semangat berharap hari ini menimbulkan berkah dan yang utama memperoleh ridho Allah subhanahu wata’ala.


Pemateri-pemateri yang insya Allah dapat menggembleng peserta diharapkan menumbuhkan jiwa-jiwa pendakwah muda yang dapat berguna bagi agama , nusa dan bangsa. semoga tujuan besar lembaga dakwah dapat terwujud dengan terlaksananya kegiatan ini dengan hasil terbaik yang Allah berikan. Amin......
               

Senin, 25 Maret 2019

Kacamata Buta





assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
            Sahabat, sudahkah kita bersyukur hari ini? atas limpahan nikmat yang telah diberikannya kepada kita. Ia menjadikan kita makhluk terbaik yang memiliki akal dan hawa nafsu yang saling menyeimbangkan satu sama lain.


            Sahabat, dengan cara apa kita bersyukur hari ini? atau apakah kita hanya terus mengeluh dengan segala kegagalan, terus mengeluh dengan berbagai kesulitan yang kita hadapi di dunia, terus mengeluh dengan kenikmatan yang kita anggap kurang, ketahuilah sahabat, hakikat kehidupan ini kita hanya menerima jadi tidak pantas bagi kita yang seorang hamba menuntut lebih atas apa yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala yang maha besar yang kehidupan manusia tidak memberikan sedikitpun manfaat untuknya.

            Sebagai seorang hamba seharusnya kita malu, seharusnya kita takut akan murka Allah, karena kita membalas segala kenikmatan itu dengan kekufuran, dengan kemaksiatan yang tidak luput kita kerjakan setiap harinya, dengan kesombongan terhadap makhluk lainnya membanggakan sesuatu yang sebenarnya hanyalah sebuah titipan yang diberikan sebagai ujian untuk manusia.            Wahai sahabat apakah begitu sulitnya kita bersyukur? Sesungguhnya bersyukur menghilangkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada hamba. Sesungguhnya bersyukur itu mengeluarkan hak-hak orang lain karena Allah.

            Sahabat, pernahkah dikau melihat orang-orang di jalanan, dengan pakaian lusuh yang tidak layak pakai. Fisik yang kurus tidak ter urus karena asupan gizi yang kurang. Tidak jarang umur mereka masih sangat belia bertebaran di jalanan tidak tentu arah. Hanya mengharapkan belas kasihan orang-orang yang masih memiliki hati dan perasaan.

            Sahabat, adakah hati kita tergerak, adakah hati kita bergetar menyaksikannya, atau apakah kita tidak merasakan apa-apa. Mata kita seperti tertutup untuk melihat kesulitan mereka, seperti ada sebuah kacamata buta yang menghalangi mata kita sehingga tidak merasakan kesulitan mereka. Bahkan tidak jarang kita hanya merasa kesal, seperti terganggu dengan kehadiran mereka, seperti mereka hanyalah benalu dan sampah masyarakat yang hanya menyulitkan orang lain.

            Ketahuilah sahabat, pada rezeki yang Allah berikan ada hak-hak mereka. kita tidak memberikan karena kita kasihan kepada mereka tapi kasihanilah kepada diri sendiri bila tidak memberi karena mereka memiliki hak atas sebagian harta yang kita miliki saat ini.

            Mari berbenah bersama, perbanyak ilmu agama agar kita mengerti tujuan kita dari kehidupan dunia, yang nantinya akan menghantarkan kita menuju surga Allah subhanahu wata’ala. Perbanyak bersyukur sahabat, jangan bertanya apa yang saya dapatkan hari ini tapi bertanyalah apa yang saya dapat berikan hari ini. semoga kita semua dalam limpahan rahmat Allah subhanahu wata’ala.

            Amin ya rabbal alamin.

Kamis, 20 Desember 2018

Pelataran surga di tanah tandus

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tiang itu masih berdiri kokoh menopang kuba besar dibagian tengah yang terlihat retak. Kuba kecil disisinya sebagian besar telah hancur tidak berbentuk lagi. warna hijaunya yang kemilau kini dinodai retakan disepanjang mata ini memandang. Pintu kacanya tidak lagi melekat ditempatnya semula. Keindahannya telah memudar dipelupuk mata yang pernah melihat keelokan dimasa jayanya.

Mungkin tempat itu tidak layak lagi. mungkin tempat itu memberikan rasa takut untuk tetap berada didalamnya. Sholat yang didirikan dengan rasa was-was kecuali oleh orang yang telah tertanam keimanan yang menghujam dalam dihatinya. Orang-orang yang telah berserah diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang yang telah merasakan manisnya keimanan dan kenyamanan saat beribadah.

Dari balik bangunan retak itu, masih terdengar suar-suar panggilan ibadah. Dari sela-sela retakan itu menggema panggilan sholat. Panggilan yang mengingatkan bahwa waktunya untuk beribadah. Waktunya untuk mengingat Allah dari rutinitas sibuk kita setiap harinya. panggilan itu tidak memudar walaupun ditempat yang telah berbeda. Panggilan itu masih memancarkan ketulusan agar orang-orang meninggalkan sejenak aktivitasnya untuk bersama-sama sholat berjamaah.

Hai sahabatku, marilah mampir kerumah Allah. Marilah mampir mengingat Allah dirumahnya yang suci. Mari kita hidupkan suasananya yang penuh dengan keikhlasan dan keimanan. Rumah yang insya Allah adalah tangga-tangga menuju surga kampung kita yang sebenarnya. Janganlah kita hanya berlalu saja tanpa menoleh seolah kita anti dengan tempat itu. seolah tempat itu tidak cocok untuk kita datangi. Tempat yang menjadi ladang amal yang kita lupakan. Seakan dunia adalah segala-galanya dan akhirat serasa hanya sampingan kehidupan.

Mari bersama saling bahu membahu kita hidupkan rumah itu kembali. Mari bersama-sama kita berinfaq demi mengembalikan ketentramannya kembali. Mari bersama agar ia kembali kepenampilannya sedia kala tampa lubang dan retakan. Semoga dengan usaha itu Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan kita rumah yang sama disurga kelak amin ya rabbal alamin.

Bersihkan diri dari noda dunia

Bersihkan diri dari hati yang kotor akan ria

Insya Allah yang maha pengampun akan menerima

Jika kita tulus bertobat dan beribadah kepadanya

Mari bersama berbenah diri dari kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Jadikan kemaksiatan sebagai sesuatu yang menjijikan yang hanya akan menodai jiwa sanubari ini. sudah saatnya berhijrah keajalan yang diridhoinya. Siapkan sedini mungkin jangan lagi ada kata menunda. Karena mati tidak harus menunggu tua.

Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh


Pesan tak bertinta maupun bersuara

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Baru beberapa bulan sahabatku, baru beberapa bulan ia berlalu. Diantara kita mungkin masih ada yang mengingat jelas kejadian itu. Kejadian yang membuat tubuh ini bergetar ketakutan. Kejadian yang membuat kita lupa dengan keluarga kita dan hanya mementingkan bagaimana untuk bisa keluar dari rumah ataupun tempat lainnya dengan selamat.

Mari kita merenung sejenak sahabat. Begitu banyaknya onggokan tubuh yang tidak bernyawa saat itu. terkulai lemas berbungkuskan pelastik mayat tanpa ada yang mengurus. Dibiarkan begitu saja selama beberapa hari berharap ada keluarga yang akan datang mengambilnya.

Kecemasan mengisi relung hati setiap orang yang masih menanti harapan sanak keluarganya dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Berjalan tidak kenal lelah mencari sejauh kaki ini dapat melangkah. Berjalan kaki dikarenakan kendaraan-kendaraan telah menjadi perhiasan disebabkan pembangkit energinya begitu sulit didapatkan.

Orang-orang kelaparan, tidak tahu lagi harus pergi kemana. Yang terlihat hanyalah kecemasan pada raut wajah-wajah kumal yang tidak terurus lagi. Entah berapa hari kulit ini tidak dibasuh air bersih karena sulitnya mendapatkan air bersih. Jangankan air bersih untuk mandi, untuk minumpun harus bersusah payah berebutan dengan orang-orang lainnya yang sama-sama membutuhkan.

Hari-hari berat itu telah berlalu dan sekarang mungkin kita telah lupa kisah itu seperti dongeng tidur dikala kecil. Ataukah kita tidak sadar sama sekali dengan apa yang telah terjadi. Sekarang tubuh ini masih utuh, sekarang raga ini tidak kurang sesuatu apapun. Bercanda tidak kenal lelah. Begitu sehatnya menyongsong hari tanpa membayangkan sebuah pesan yang amat jelas dimata kita. Sebuah pesan yang terpambang melambai-lambai dihadapan kita. sebuah pesan yang tidak bertinta maupun berpena. Pesan yang bisu dengan sarat makna.

Kematian begitu jelas dimata kita tapi seakan kita tidak merasakan bahwa nanti kita akan mengalaminya. Tubuh yang terbujur kaku tidak menjadi pelajaran buat kita seakan kita akan hidup selamanya. Ketahuilah sahabatku semua manusia itu akan mati dan manusia tidak akan pernah bisa lari dari kematiannya walaupun ia membuat tembok dan ia masuk kedalamnya sesungguhnya kematian itu pasti akan menjemputnya.

Kematian itu dekat saudaraku. Kematian itu akan menghampiri setiap insan yang merasakan namanya kehidupan. Kematian menjadi jalan akhir kita didunia untuk melangkah menyusuri jalan pertanggungjawaban kita dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Pesan itu mengisyaratkan kepastian akan kematian. Setiap hembusan nafas ini adalah langkah untuk menjemputnya. Yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah kita akan hari itu? Bekal apa yang telah kita siapkan ketika ia datang dengan sifatnya yang tiba-tiba. Hanya penyesalan nantinya yang akan menghampiri kita bila amal itu tidak kita cari sedini mungkin. Penyesalan itu hanya akan menjadi penyesalan tiada arti karena tidak ada kesempatan kedua. maka gunakanlah waktu kita dengan baik. Jangan dihabiskan dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Mari kita isi dengan bingkai dakwah agar menjadi indah dikemudian hari saat ajal itu datang dan malaikat israil mencabut roh kita dengan perlahan seperti tetesan air yang menetes didaun keladi. Dan membawanya dengan kain kafan dari cahaya.

“Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).

Mari banyak-banyak mengingat kematian karena ia adalah guru terbaik untuk tetap mengokohkan iman kita agar terus beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


Jumat, 07 Desember 2018

Dimana harus percaya?

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh


Sahabat, sudahkah antum memperhatikan kehidupan disekeliling kita? Begitu banyaknya perselisihan-perselisihan yang terjadi hari ini. bahkan mungkin tetangga kita pun pernah berselisih dengan tetangga yang lainnya atau bisa jadi kita pun melakukan hal yang sama.

Riuh berita dimana-mana, suar-suar keributan pecah tercerai berai mengisi rongga telinga. Semua orang begitu lantangnya bersuara menyampaikan aspirasinya entah itu dari lubuk hatinya atau ada sesuatu yang menggerakkan lidahnya untuk berbicara menantang pihak yang berseberangan pendapat dengannya.

Kalimat makian, cacian dan celaan kerap terdengar. Bantahan-bantahan akan suatu pendapat sudah menjadi hal yang biasa. Nafsu telah mempengaruhi pola berpikir manusia yang rapuh dengan godaan dunia. Perut mereka telah menjadi raja, asalkan mereka makan tidak peduli lagi meski didapatkan dengan cara-cara yang dilarang oleh Allah dan rasulnya.

Informasi begitu cepat menyebar tidak terelakan lagi. informasi begitu mudahnya didapatkan dari sebuah layar teknologi canggih yang lumrah di zaman ini. yang menjadi masalahnya ialah semua informasi yang kita dapatkan seringkali tidak sesuai dengan kenyataannya dan terkadang juga seseorang menulis berita secara berlebihan serta tidak jarang berita yang disampaikan tidak pernah terjadi  atau bahasa modernya kita sering menyebutnya berita hoax.

Apa dampak dari semua ini? dampaknya ialah orang-orang menjadi banyak berselisih karena banyaknya informasi yang saling bertolak belakang. Kepercayaan orang akan informasi yang belum jelas asal muasalnya kerap terjadi pada masyarakat kita. Ketidaktelitian dalam mengkonsumsi informasi menjadi sebab utama hal ini bisa terjadi. Padahal islam telah mengajarkan cara terbaik dalam menangani permasalahan ini, namun hal ini kerap diabaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya

 “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan cara kepada hambanya dalam menerima informasi dan mengabarkan informasi kepada orang lain. Agar berita yang disampaikan tidak terdapat unsur penipuan yang akan memecah belah serta mengadu domba. Semoga kita semua selalu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman kita dalam meniti kehidupan yang fana ini. Agar nantinya tidak terperanjat dalam kesesatan dan dikendalikan nafsu akan dunia.

Tetap ingat sahabat, perjalanan kita masih panjang. Dunia hanyalah sekejap diibaratkan seperi sebuah pohon rindang sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari di hamparan padang pasir yang luas. Cepat atau lambat kita akan meninggalkannya dan berlalu pergi. maka siapkanlah bekal kita sebaik-baiknya sebelum tiba waktu itu, waktu ketika semuanya harus diperanggungjawabkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita bersama-sama intropeksi diri dan menjaga lisan-lisan kita dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan-perkataan adu domba yang nantinya akan merugikan diri kita sendiri.

Syukron, sekian tulisan dari hamba Allah yang fakir ini, semoga dapat bermanfaat mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan sesungguhnya penulis hanya seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Kebenaran hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesalahan adalah milik saya pribadi dan setan-setan yang mengganggu setiap manusia.


Pages - Menu