Senin, 09 Desember 2019
Bunga Hati Yang Bersemi
Rabu, 04 Desember 2019
Jangan Siapkan Musuh di Akhirat
Senin, 02 Desember 2019
Malumu Lebih Berharga Dari Anakmu
Jumat, 06 September 2019
Orang-orang yang bangkrut
Minggu, 18 Agustus 2019
Kemana langkahmu
Rabu, 14 Agustus 2019
Lidahku tak dapat lagi berdalih
Senin, 05 Agustus 2019
Yang tidak termaafkan
Rabu, 03 Juli 2019
Studi islam intensif 2019
Sekat-sekat tirai penghalang
Minggu, 05 Mei 2019
It’s Come Back
Rabu, 01 Mei 2019
Saat kamera bergandengan dengan bakia dalam sehari
Sahabat, mpm Al-Iqra Fakultas Ekonomi
Universitas Tadulako kota Palu baru saja menyelesaikan dua kegiatan Sahara (sejuta
hikmah ramadhan) yaitu Kamera (kajian menjelang ramadhan) dan Bakia (bagi
jadwal imzakiyah) yang alhamdulillah telah selasai dilaksanakan pada hari rabu
1 mei 2019 dengan usaha yang maksimal dari para panitia Sahara.
Kegiatan
Bakia diawali dengan pembagian penanggung jawab untuk setiap tempat yang
nantinya akan dibagikan selebaran jadwal imzakiyah yang telah didesain
sedemikian rupa agar terlihat menarik dilengkapi dengan lembaran dakwah ramadhan
yang mengandung isi yang sangat berguna dalam aktifitas dalam bulan suci
ramadhan.Jumat, 19 April 2019
TRAINING OF MENTOR (TOM) 2019
Senin, 25 Maret 2019
Kacamata Buta
Sahabat, sudahkah kita bersyukur hari ini? atas limpahan nikmat yang telah diberikannya kepada kita. Ia menjadikan kita makhluk terbaik yang memiliki akal dan hawa nafsu yang saling menyeimbangkan satu sama lain.
Sahabat, dengan cara apa kita bersyukur hari ini? atau apakah kita hanya terus mengeluh dengan segala kegagalan, terus mengeluh dengan berbagai kesulitan yang kita hadapi di dunia, terus mengeluh dengan kenikmatan yang kita anggap kurang, ketahuilah sahabat, hakikat kehidupan ini kita hanya menerima jadi tidak pantas bagi kita yang seorang hamba menuntut lebih atas apa yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala yang maha besar yang kehidupan manusia tidak memberikan sedikitpun manfaat untuknya.
Sebagai seorang hamba seharusnya kita malu, seharusnya kita takut akan murka Allah, karena kita membalas segala kenikmatan itu dengan kekufuran, dengan kemaksiatan yang tidak luput kita kerjakan setiap harinya, dengan kesombongan terhadap makhluk lainnya membanggakan sesuatu yang sebenarnya hanyalah sebuah titipan yang diberikan sebagai ujian untuk manusia. Wahai sahabat apakah begitu sulitnya kita bersyukur? Sesungguhnya bersyukur menghilangkan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada hamba. Sesungguhnya bersyukur itu mengeluarkan hak-hak orang lain karena Allah.
Sahabat, pernahkah dikau melihat orang-orang di jalanan, dengan pakaian lusuh yang tidak layak pakai. Fisik yang kurus tidak ter urus karena asupan gizi yang kurang. Tidak jarang umur mereka masih sangat belia bertebaran di jalanan tidak tentu arah. Hanya mengharapkan belas kasihan orang-orang yang masih memiliki hati dan perasaan.
Sahabat, adakah hati kita tergerak, adakah hati kita bergetar menyaksikannya, atau apakah kita tidak merasakan apa-apa. Mata kita seperti tertutup untuk melihat kesulitan mereka, seperti ada sebuah kacamata buta yang menghalangi mata kita sehingga tidak merasakan kesulitan mereka. Bahkan tidak jarang kita hanya merasa kesal, seperti terganggu dengan kehadiran mereka, seperti mereka hanyalah benalu dan sampah masyarakat yang hanya menyulitkan orang lain.
Ketahuilah sahabat, pada rezeki yang Allah berikan ada hak-hak mereka. kita tidak memberikan karena kita kasihan kepada mereka tapi kasihanilah kepada diri sendiri bila tidak memberi karena mereka memiliki hak atas sebagian harta yang kita miliki saat ini.
Mari berbenah bersama, perbanyak ilmu agama agar kita mengerti tujuan kita dari kehidupan dunia, yang nantinya akan menghantarkan kita menuju surga Allah subhanahu wata’ala. Perbanyak bersyukur sahabat, jangan bertanya apa yang saya dapatkan hari ini tapi bertanyalah apa yang saya dapat berikan hari ini. semoga kita semua dalam limpahan rahmat Allah subhanahu wata’ala.
Amin ya rabbal alamin.
Kamis, 20 Desember 2018
Pelataran surga di tanah tandus
Tiang itu masih berdiri kokoh menopang kuba besar dibagian tengah yang terlihat retak. Kuba kecil disisinya sebagian besar telah hancur tidak berbentuk lagi. warna hijaunya yang kemilau kini dinodai retakan disepanjang mata ini memandang. Pintu kacanya tidak lagi melekat ditempatnya semula. Keindahannya telah memudar dipelupuk mata yang pernah melihat keelokan dimasa jayanya.
Mungkin tempat itu tidak layak lagi. mungkin tempat itu memberikan rasa takut untuk tetap berada didalamnya. Sholat yang didirikan dengan rasa was-was kecuali oleh orang yang telah tertanam keimanan yang menghujam dalam dihatinya. Orang-orang yang telah berserah diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang yang telah merasakan manisnya keimanan dan kenyamanan saat beribadah.
Dari balik bangunan retak itu, masih terdengar suar-suar panggilan ibadah. Dari sela-sela retakan itu menggema panggilan sholat. Panggilan yang mengingatkan bahwa waktunya untuk beribadah. Waktunya untuk mengingat Allah dari rutinitas sibuk kita setiap harinya. panggilan itu tidak memudar walaupun ditempat yang telah berbeda. Panggilan itu masih memancarkan ketulusan agar orang-orang meninggalkan sejenak aktivitasnya untuk bersama-sama sholat berjamaah.
Hai sahabatku, marilah mampir kerumah Allah. Marilah mampir mengingat Allah dirumahnya yang suci. Mari kita hidupkan suasananya yang penuh dengan keikhlasan dan keimanan. Rumah yang insya Allah adalah tangga-tangga menuju surga kampung kita yang sebenarnya. Janganlah kita hanya berlalu saja tanpa menoleh seolah kita anti dengan tempat itu. seolah tempat itu tidak cocok untuk kita datangi. Tempat yang menjadi ladang amal yang kita lupakan. Seakan dunia adalah segala-galanya dan akhirat serasa hanya sampingan kehidupan.
Mari bersama saling bahu membahu kita hidupkan rumah itu kembali. Mari bersama-sama kita berinfaq demi mengembalikan ketentramannya kembali. Mari bersama agar ia kembali kepenampilannya sedia kala tampa lubang dan retakan. Semoga dengan usaha itu Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan kita rumah yang sama disurga kelak amin ya rabbal alamin.
Bersihkan diri dari noda dunia
Bersihkan diri dari hati yang kotor akan ria
Insya Allah yang maha pengampun akan menerima
Jika kita tulus bertobat dan beribadah kepadanya
Mari bersama berbenah diri dari kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Jadikan kemaksiatan sebagai sesuatu yang menjijikan yang hanya akan menodai jiwa sanubari ini. sudah saatnya berhijrah keajalan yang diridhoinya. Siapkan sedini mungkin jangan lagi ada kata menunda. Karena mati tidak harus menunggu tua.
Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh
Pesan tak bertinta maupun bersuara
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Baru beberapa bulan sahabatku, baru beberapa bulan ia berlalu. Diantara kita mungkin masih ada yang mengingat jelas kejadian itu. Kejadian yang membuat tubuh ini bergetar ketakutan. Kejadian yang membuat kita lupa dengan keluarga kita dan hanya mementingkan bagaimana untuk bisa keluar dari rumah ataupun tempat lainnya dengan selamat.
Mari kita merenung sejenak sahabat. Begitu banyaknya onggokan tubuh yang tidak bernyawa saat itu. terkulai lemas berbungkuskan pelastik mayat tanpa ada yang mengurus. Dibiarkan begitu saja selama beberapa hari berharap ada keluarga yang akan datang mengambilnya.
Kecemasan mengisi relung hati setiap orang yang masih menanti harapan sanak keluarganya dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Berjalan tidak kenal lelah mencari sejauh kaki ini dapat melangkah. Berjalan kaki dikarenakan kendaraan-kendaraan telah menjadi perhiasan disebabkan pembangkit energinya begitu sulit didapatkan.
Orang-orang kelaparan, tidak tahu lagi harus pergi kemana. Yang terlihat hanyalah kecemasan pada raut wajah-wajah kumal yang tidak terurus lagi. Entah berapa hari kulit ini tidak dibasuh air bersih karena sulitnya mendapatkan air bersih. Jangankan air bersih untuk mandi, untuk minumpun harus bersusah payah berebutan dengan orang-orang lainnya yang sama-sama membutuhkan.
Hari-hari berat itu telah berlalu dan sekarang mungkin kita telah lupa kisah itu seperti dongeng tidur dikala kecil. Ataukah kita tidak sadar sama sekali dengan apa yang telah terjadi. Sekarang tubuh ini masih utuh, sekarang raga ini tidak kurang sesuatu apapun. Bercanda tidak kenal lelah. Begitu sehatnya menyongsong hari tanpa membayangkan sebuah pesan yang amat jelas dimata kita. Sebuah pesan yang terpambang melambai-lambai dihadapan kita. sebuah pesan yang tidak bertinta maupun berpena. Pesan yang bisu dengan sarat makna.
Kematian begitu jelas dimata kita tapi seakan kita tidak merasakan bahwa nanti kita akan mengalaminya. Tubuh yang terbujur kaku tidak menjadi pelajaran buat kita seakan kita akan hidup selamanya. Ketahuilah sahabatku semua manusia itu akan mati dan manusia tidak akan pernah bisa lari dari kematiannya walaupun ia membuat tembok dan ia masuk kedalamnya sesungguhnya kematian itu pasti akan menjemputnya.
Kematian itu dekat saudaraku. Kematian itu akan menghampiri setiap insan yang merasakan namanya kehidupan. Kematian menjadi jalan akhir kita didunia untuk melangkah menyusuri jalan pertanggungjawaban kita dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala.
Pesan itu mengisyaratkan kepastian akan kematian. Setiap hembusan nafas ini adalah langkah untuk menjemputnya. Yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah kita akan hari itu? Bekal apa yang telah kita siapkan ketika ia datang dengan sifatnya yang tiba-tiba. Hanya penyesalan nantinya yang akan menghampiri kita bila amal itu tidak kita cari sedini mungkin. Penyesalan itu hanya akan menjadi penyesalan tiada arti karena tidak ada kesempatan kedua. maka gunakanlah waktu kita dengan baik. Jangan dihabiskan dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Mari kita isi dengan bingkai dakwah agar menjadi indah dikemudian hari saat ajal itu datang dan malaikat israil mencabut roh kita dengan perlahan seperti tetesan air yang menetes didaun keladi. Dan membawanya dengan kain kafan dari cahaya.
“Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).
Mari banyak-banyak mengingat kematian karena ia adalah guru terbaik untuk tetap mengokohkan iman kita agar terus beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Jumat, 07 Desember 2018
Dimana harus percaya?
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Sahabat, sudahkah antum memperhatikan kehidupan disekeliling kita? Begitu banyaknya perselisihan-perselisihan yang terjadi hari ini. bahkan mungkin tetangga kita pun pernah berselisih dengan tetangga yang lainnya atau bisa jadi kita pun melakukan hal yang sama.
Riuh berita dimana-mana, suar-suar keributan pecah tercerai berai mengisi rongga telinga. Semua orang begitu lantangnya bersuara menyampaikan aspirasinya entah itu dari lubuk hatinya atau ada sesuatu yang menggerakkan lidahnya untuk berbicara menantang pihak yang berseberangan pendapat dengannya.
Kalimat makian, cacian dan celaan kerap terdengar. Bantahan-bantahan akan suatu pendapat sudah menjadi hal yang biasa. Nafsu telah mempengaruhi pola berpikir manusia yang rapuh dengan godaan dunia. Perut mereka telah menjadi raja, asalkan mereka makan tidak peduli lagi meski didapatkan dengan cara-cara yang dilarang oleh Allah dan rasulnya.
Informasi begitu cepat menyebar tidak terelakan lagi. informasi begitu mudahnya didapatkan dari sebuah layar teknologi canggih yang lumrah di zaman ini. yang menjadi masalahnya ialah semua informasi yang kita dapatkan seringkali tidak sesuai dengan kenyataannya dan terkadang juga seseorang menulis berita secara berlebihan serta tidak jarang berita yang disampaikan tidak pernah terjadi atau bahasa modernya kita sering menyebutnya berita hoax.
Apa dampak dari semua ini? dampaknya ialah orang-orang menjadi banyak berselisih karena banyaknya informasi yang saling bertolak belakang. Kepercayaan orang akan informasi yang belum jelas asal muasalnya kerap terjadi pada masyarakat kita. Ketidaktelitian dalam mengkonsumsi informasi menjadi sebab utama hal ini bisa terjadi. Padahal islam telah mengajarkan cara terbaik dalam menangani permasalahan ini, namun hal ini kerap diabaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan cara kepada hambanya dalam menerima informasi dan mengabarkan informasi kepada orang lain. Agar berita yang disampaikan tidak terdapat unsur penipuan yang akan memecah belah serta mengadu domba. Semoga kita semua selalu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman kita dalam meniti kehidupan yang fana ini. Agar nantinya tidak terperanjat dalam kesesatan dan dikendalikan nafsu akan dunia.
Tetap ingat sahabat, perjalanan kita masih panjang. Dunia hanyalah sekejap diibaratkan seperi sebuah pohon rindang sebagai tempat berteduh dari teriknya matahari di hamparan padang pasir yang luas. Cepat atau lambat kita akan meninggalkannya dan berlalu pergi. maka siapkanlah bekal kita sebaik-baiknya sebelum tiba waktu itu, waktu ketika semuanya harus diperanggungjawabkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita bersama-sama intropeksi diri dan menjaga lisan-lisan kita dari perkataan yang tidak berguna dan perkataan-perkataan adu domba yang nantinya akan merugikan diri kita sendiri.
Syukron, sekian tulisan dari hamba Allah yang fakir ini, semoga dapat bermanfaat mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan sesungguhnya penulis hanya seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Kebenaran hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesalahan adalah milik saya pribadi dan setan-setan yang mengganggu setiap manusia.







